SETIA MELAYANI SANG SETIA
SETIA
MELAYANI SANG SETIA
Yeremia, 1:4-19
PENDAHULUAN
Nabi Yeremia merupakan seorang nabi yang dipanggil Tuhan pada masa
mudanya dan belum pandai bicara. Kata “muda” dalam bahasa Ibrani di tulis
“na’ar” yang memiliki arti ganda yaitu priode masa anak-anak. Jika pada umumnya
seorang nabi dipilih atau dipanggil pada usia 20-30 ke atas, namun menurut penjabaran
dapat diketahui bahwa Yeremia dipanggil sebelum usianya genap 20 tahun.
Dalam pelayanannya Yeremia menentang 2 hal yaitu Penyembahan berhala dan Ketidakadilan. Yeremia sangat menentang adanya nubuat nabi-nabi palsu. Dalam pengajarannya Yeremia sangat menekankan akan Kebesaran dan Kedaulatan Tuhan yang menjadi satu-satunya penguasa atas langit dan bumi. (Yeremia 27:5, Yeremia 5:22, Yeremia 10:12).
Yeremia sangat mengerti dan memahami benar akan panggilan Tuhan dalam hidupnya, sehingga hal tersebut membuat sebagian orang merasa marah dan tidak senang akan keberadaan Yeremia terlebih bagi nabi-nabi palsu dan imam-imam pada saat itu karena Yeremia tidak dapat diajak untuk kompromi dalam meraup keuntungan dari jabatan atau kedudukan yang mereka miliki. (Yeremia 6:13).
Dengan ketekunan dan kesetiaannya akan Tuhan Yeremia terus berupaya menentang keras nubuan nabi-nabi palsu dan menyadarkan umat Yehuda akan ketidakbenaran yang diucapkan oleh nabi-nabi palsu tersebut sehingga dalam nubuatnya Yeremia berkata dalam Yeremia 23 akan celaka dan hukuman bagi pemimpin Rohani Yehuda, para imam dan nabi palsu yang karena kepentingan pribadi telah dengan sengaja memperkaya diri dan mengabaikan keadaan bangsanya.
Menjadi nabi Yeremia tentu memiliki banyak beban dan pergumulan hidup terlebih
dimulai sejak pemilihannya menjadi seorang nabi yang dirasanya terlalu dini
atau muda, menghadapi banyak nabi-nabi palsu serta imam-imam yang curang,
bahkan sampai akhir pelayanannya tentu tidaklah mudah. Yeremia sadar akan
keterbatasannya dalam melaksanakan tugas tanggung jawab yang diberikan Tuhan, dengan
terus berdoa dan bersandar pada Tuhan Allah yang mengutusnya.
Menyampaikan nubuatan/pesan Tuhan yang keras menjadi suatu ancaman bagi keselamatan Yeremia, sehingga membuatnya seringkali hampir dibunuh (Yeremia 26 dan Yeremia 38) tetapi karena ketaatannya kepada Tuhan Allah maka hal tersebut tidak menimpahnya.
Lalu apa yang dapat kita pelajari dari nabi Yeremia?
1. MENYADARI BAHWA TUHAN MEMBERI POTENSI
DALAM DIRI KITA
Kita perlu menyadari bahwa Allah menciptakan kita dengan sebuah potensi,
talenta, bakat, kemampuan, dll. Allah menghendaki supaya kita menggunakan
segenap potensi tersebut untuk kemuliaan-Nya.
Yeremia menyadari bahwa tanggung jawab yang diberikan bukan sesuatu yang
asal-asalan, itu merupakan sesuatu yang sanngat serius karena menyangkut akan
keselamatan suatu bangsa. Oleh sebab itu ketika firman Tuhan datang kepadanya,
dia langgung berkata di ayat ke 6 “Maka aku
menjawab: ”Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku
ini masih muda.”
Allah tau kekuatiran yang dirasakan oleh Yeremia namun Allah lebih tau
potensi yang ada dalam diri Yeremia, oleh sebab itu diawal firmannya Tuhan berkata
bahwa Allah MENGENAL sebelum ia berada dalam kandungan dan telah MENETAPKANNYA
untuk melakukan tugas dan tanggung jawab tersebut.
Kita terkadang suka mengecilkan diri sendiri dan tidak percaya diri akan potensi yang kita miliki, alih-alih mencoba dan berusaha, kita lebih memilih untuk menyerah lebih dulu. Namun kita dapat melihat dari Yeremia atau tokoh-tojkoh Alkitab lainnya bahwa kita tidak akan pernah tau potensi dalam diri kita tanpa melangkah dan mencobanya. Yeremia tahu keterbatasannya dan dia mengakuinya d’hadapan Tuhan tapi Tuhanpun menyatakan penyertaannya bagi Yeremia.
2.
TAAT AKAN FIRMAN TUHAN
“Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman Tuhan”.
Yeremia bisa saja mengabaikan serta mengelak Firman Tuhan yang datang
padanya, namun ia memilih untuk TAAT dan DENGAR-DENGARAN. Ia
tidak lagi memberikan alasan akan keterbatasan yang dimilikinya untuk menolak
panggilan Tuhan dalam dirinya.
Apa yang meyakinkan Yeremia sehingga ia taat dan tidak berbantah lagi akan Firman Tuhan yang datang padanya? JANJI ALLAH ATAS HIDUPNYA!
Janji yang telah Allah ucapkan bagi Yeremia sanggup menyentuh relung
hatinya terdalam hatinya, Tuhan katakan bahwa Yeremia tidak perlu kuatir dan
takut sebab Allah sendiri yang akan menyertainya. Tuhan ingin
Yeremia pergi dan mengerjakan apa yang menjadi perintah Tuhan dimanapun Tuhan mengutusnya!.
Kita seringkali susah diajak kerjasama sama Tuhan, kita merasa kita yang
paling tau kemampuan kita, kita merasa itu bukan keahlian kita dan tidak jarang
kita mengabaikan panggilan Tuhan dalam diri kita atau dengan kata lain kita
serinng gak TAAT, pura-pura tidak ngerti, pura-pura gak dengar, pura-pura lupa
dan lain sebagainya.
Namun Yeremia dalam keterbatasan yang ia sendiri sadari dalam dirinya
tetap memilih untuk taat kepada Firman Tuhan.
Hari-hari ini kita sedang dipersiapkan dan mempersiapkan diri untuk pergi mengerjakan tugas tanggung jawab kita di hadapan Allah seperti yang tertulis dalam Matius 28:19-20.
3.
KEADAAN TERSULIT SEKALIPUN TETAP SETIA
Seperti d’awal telah dijabarkan bahwa tugas Yeremia tidaklah mudah, menjadi nabi yang pilih untuk menyuarakan nubuat akan suatu bangsa tentu perlu kesiapan fisik dan mental yang kuat. Apa yang disampaikan Yeremia seringkali membuat beberapa orang terlebih bagi nabi-nabi palsu dan imam-imam pada saat itu sangat murka padanya, bagaimana tidak Yeremia selalu menyampaikan pesan akan murka Allah akan bangsa Yehuda apabila bangsa tersebut tetap hidup jauh dari ketetapan Allah.
Sehingga hal tersebut seringkali membuatnya Yeremia harus berdiri di
ujung maut karena menyatakan kebenaran. Tapi hal tersebut tidak membuatnya
undur dan tetap percaya bahwa apa yang disampaikannya benar dari Allah.
Kebanyakan orang ketika mendengar firman Tuhan atau sebuah nubuat yang disampaikan oleh hamba-hamba Tuhan maunya yang enak-enak saja, yang manis-manis saja, yang memberkati saja, pokoknya yang menyukakan hati saja TAPI ketika firman/nubuat tersebut sifatnya menegur dan mengingatkan hati kita kadang kesal, marah, tidak terima, dan bahkan curiga.
Keadaan tersebut kadang membuat sebagian orang sebagai hamba Tuhan juga malas untuk menyampaikannya dengan beranggapan bahwa ngapain disampaikan toh juga gak diterima, toh juga kita dijauhi, toh kita juga dicaci maki, ngapaiiiinn???
Tapi berbeda hal dengan Yeremia yang pada zaman itu dengan lantang dan penuh keberanian menyatakaan apa yang menjadi isi hati Tuhan bagi bangsa Yehuda. Meskipun bangsa tersebut mengabaikannya tetapi Yeremia tetap setia walaupun keadaan dan kondisi yang dialami tidaklah mudah namun ia terus percaya bahwa Allah yang dia sembah tidaklah sekali-kali meninggalkannya (Yeremia 1:19).
KESIMPULAN:
Yeremia tahu akan beratnya medan perang yang akan dia tempuh sehingga dia benar-benar mempersiapkan dirinya, alih-alih memusingkan dirinya dengan segala kekuatiran dan ketakutan ia lebih memilih berserah dan percaya akan Firman Tuhan.
Diusia kita yang tergolong muda ini tentu rasa tidak percaya diri, kuatir, tidak mampu, dan lain sebagainya seringkali menjadi tembok atau penghalang untuk kita melangkah maju melayani Tuhan. Sehingga dalam doapun kita hanya berharap Tuhan memberi kita tempat yang “baik dan tenang”, kalau bisa terlepas dari “kesusahan”.
Tapi adakah kita pernah berdoa dan memohon kepada Tuhan dengan permohonan
yang benar?
Adakah kita pernah berdoa, “Tuhan dimanapun aku melayani ajar aku terus memandang hanya kepada Tuhan, sehingga ketika keadaan yang kuterima ditempat aku melayani tidak sesuai dengan harapanku, aku tidak menjadi kecewa. Ketika penerimaan sekitar tempat aku melayani tidak menerima atau menyambutku dengan baik hatiku tidak menjadi terluka dan marah. Ketika pelayananku seakan tidak dihargai dan dipandang hina, aku tidak menjadi sedih dan menyalahkan Tuhan. Atau keadaan-keadaan buruk lainnya yang ku alami ditempat aku melayani nantinya ajar aku tidak mudah menyerah dan terus setia melayani Engkau.”
Seperti halnya Tuhan menyertai Yeremia maka hal tersebutlah yang akan dikerjakan-Nya atas hidup saya dan saudara. Ketika kita tetap berdiri teguh pada kebenaran dan terus bersandar dan berserah kepada kuat tangan-Nya yang berkuasa maka keadaan yang terburuk sekalipun tidak akan mampu membuat saya dan saudara berhenti untuk melayani, sebab itu percayalah bahwa jeri lelahmu tidaklah sia-sia.
Kita melayani karena Allah lebih dahulu melayani saya dan saudara. Oleh sebab itu tetaplah pegang kebenaran, jadilah hamba Tuhan yang terus menyatakan kebenaran, jadilah hamba Tuhan yang terus mengandalkan Tuhan, jadilah hamba Tuhan yang Tangguh dan tahan uji, jadilah hamba Tuhan yang dewasa, jadilah hamba Tuhan yang penuh kasih dan setia, sehingga baik-buruknya keadaan yang kita hadapi kedepan kita tetap SETIA MELAYANI SANG SETIA. Amin

amin
BalasHapus