KETAATAN DITENGAH KERUSAKAN
Penulis: Christy Lumban Tobing
Shalom saudara yang terkasih, puji syukur kepada Tuhan kiranya Firman-Nya selalu membawa kita untuk memiliki pembaharuan diri secara terus menerus sehingga kita mampu menjalani hidup yang selaras dengan kebenaran Firman Tuhan.
"Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup rusak di bumi."
Ditengah perkembangan zaman yang semakin moderen ini, banyak hal yang disajikan untuk memudahkan umat manusia dalam mengerjakan segala sesuatu, kitapun dapat dengan mudahnya menggali ataupun mencari informasi-informasi yang dibutuhkan bahkan yang sedang tren saat ini. Tidak sedikit dari berita yang kita lihat bahkan dengan mengenai kerusakan serta kekacauan yang tengah dikerjakan manusia di dunia ini. Banyaknya kasus kejahatan yang terjadi terkadang tanpa dasar atau alasan yang jelas, seperti cinta sesama jenis, KDRT, pembunuhan, pengunaan obat terlarang, pemerkosaan, dan kejahatan lainnya, ini sungguh keadaan yang tidak dapat kita hindari seperti.
Keadaan inipun disaksikan Allah sendiri di masa yang lampau, sehingga membuat-Nya menyesal telah menciptakan manusia di bumi. Namun ditengah-tengah kerusakan dan kebobrokan yang terjadi di bumi, Allah mendapati bahwa ada pribadi yang hidup berkenan dihadapan-Nya. Tapi apa yang membuatnya berkenan dihadapan Allah?
Baca Kejadian 6:9-22
Untuk hidup berkenan dihadapan Tuhan di zaman sekarang ini tentu tidaklah mudah, sebab ada banyak godaan dan ajakan yang terkadang tanpa kita sadari mulai membawa kita menjauh dari jalan hidup yang jauh dari kehendak dan Firman Allah. Kondisi yang sama pun terjadi pada zaman Nuh, yang kala itu Alkitab mencatat bahwa kehidupan manusia di bumi sungguhlah rusak dan tidak berkenan di hadapan Allah, sehingga Ia menyesal telah menciptakan manusia. akan tetapi berbeda dengan Nuh, Allah mendapatinya tetap berkenan dihadapan-Nya (ayat 7-8). Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kehidupan Nuh yang tetap hidup benar meskipun keadaan sekelilingnya telah rusak, yaitu:
🔑Nuh Hidup Berkenan dihadapan Tuhan (ayat 9)
Banyak orang beranggapan bahwa hidup berkenan itu cukup dengan banyak berpuasa, banyak doa, banyak baca firman, banyak ikut kegiatan rohani, dan lainnya. tentu semua itu tidak ada yang salah tapi sesungguhnya hidup berkenan adalah hidup melakukan serta menghidupi Firman Tuhan dan sudah menjadi gaya hidup orang percaya yang harus dilakukan secara konsisten dan terus-menerus. Namun banyak orang enggan untuk melakukannya. Patut kita ketahui bahwa Nuh dikatakan pribadi yang benar, tidak bercela dan hidup bergaul karib dengan Allah ini membuktikan bahwa Nuh terus melatih dirinya untuk memiliki dasar kepercayaan yang teguh akan Allah sehingga kualitas iman dan ketaatan Nuh tidak mudah goyah karena keadaan sekitarnya. pertanyaannya bagaimana dengan kita, apakah ditengah-tengah keadaan bumi yang rusak ini. kita tetap memiliki hubungan yang karib dan taat dengan Tuhan? Saudara, orang yang hidup berkenan dihadapan Tuhan adalah orang yang hidup taat melakukan dan mengerjakan Firman Tuhan.
Dalam proses hidup untuk tetap taat, kita akan diperhadapkan dengan perkataan-perkataan yang mungkin akan melukaimu, mengecewakanmu, membuatmu akhirnya menyerah dan putus asa. Namun saudara dari Nuh kita belajar bahwa tatkala keadaan serta kondisi tersebut menghampirimu tetaplah berpegang pada kebenaran serta janji Firman Allah. Benar itu bukanlah sesuatu yang mudah tapi bukan berarti tidak dapat kita lakukan.
🔑Nuh Berhasil membawa keluarganya Hidup Berkenan dihadapan Allah
Selain ketaatannya Nuh juga berhasil membawa keluarganya hidup dalam kebenaran, tentu bukan perkara yang mudah, kita tahu bahwa anggota keluarga Nuh terdiri dari istri, 3 orang anak yaitu Sem, Ham, dan Yafet, dan 3 orang menantunya, namun dalam kemarahan serta murka Allah Nuh dan keluarganya mendapat kasih karunia Allah.
Kendala yang sering kita temui atau bahkan yang kita alami secara pribadi ketika mengerjakan visi Allah dalam hidup kita adalah "keluarga", tidak dapat dipungkiri terkadang dalam realita kehidupan manusia mengerjakan visi Allah, kelurga merupakan pergumulan utama terlebih di zaman sekarang ini. setiap orang tua maupun anggota keluarga lainnya harus lebih extra mengarahkan keluarga mereka pada dasar imanyang benar terlebih sekarang ini banyak orang mudah terpengaruh pada ajaran-ajaran sesat melalui pergaulan, tontonan, digital, dll yang tanpa disadari membuat waktu dan kegiatan banyak orang habis tersita dan tidak lagi mempunyai wantu untuk hal-hal rohani seperti berdoa, membaca firman, beribadah, dan berkumpul bersama dalam persekutuan orang-orang percaya. Namun saudara dari kehidupan Nuh kita belajar bahwa karena perkenanan Allah, Nuh diberikan otoritas tinggi sehingga ia berhasil menanamkan nilai-nilai kebenaran pada setiap anggota keluarganya. Nuh tidak hanya berkenan dihadapan Tuhan tetapi ia juga merupakan teladan di dalam keluarganya oleh karena Nuh tidak hanya terfokus pada dirinya sendiri.
KESIMPULAN
Kiranya melalui renungan ini, setiap kita kembali menyadari untuk tidak menjadi manusia-manusia yang memusatkan diri pada hal-hal yang fana saja sehingga akhirnya melukai hati Tuhan dan melupakan visi yang telah Tuhan beri bagi kita. Nuh ketika hidup ditengah-tengah keadaan hidup manusia yang rusak namun tetap memiliki hubungan yang karib dengan Allah, sehingga melalui hidupnya seisi rumahnya ikut diselamatkan dari murka Allah. Oleh sebab itu hendaklah setiap kitapun boleh terus memacu dan melatih diri untuk dapat bergaul karib serta berkenan dihadapan Tuhan, sehingga kita tidak menjadi manusia yang asal-asalan namun sebaliknya tidak hanya karakter tapi kehidupan rohani kita dapat terus bertumbuh dan menghasilkan buah yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Kelak tidak hanya diri kita sendiri yang menerima keselamatan tetapi seisi rumah, komunitas, suku-suku, bangsa, dan bahkan seluruh bumi ini menerima keselamatan yang dari pada Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan Yesus memberkati kita semua!
amin
BalasHapus